Category Archives: My Thought

Inspiring Quote

  • Percayalah pada dirimu sendiri lebih dari siapapun. Jangan biarkan mereka yang membencimu menjadi hambatan kamu untuk terus tumbuh.
  • Selalu andalkan Tuhan, karna km tahu km tak cukup kuat ketika km mengandalkan diri sendiri atau orang lain.
  • Keberhasilan menjadi mudah ketika kamu bekerja keras, dan akan menjadi sulit ketika kamu bekerja dengan malas.
  • Berharap itu bukan hanya diam, tapi tetap berdoa dan berusaha. Impian bukan untuk ditunggu, tapi juga dijemput.
  • Ada hal-hal yg memang terjadi di luar kendali kita. Mengkhawatirkan hal-hal itu tak mengubah apa-apa.
  • Banyak rintangan dalam hidup ini tapi Tuhan akan memberikan apa yg kamu butuhkan bahkan kadang lebih daripada yg kamu inginkan.
  • Bersikap baik bukan berarti bermuka dua. Kebaikan sejati selalu datang dari hati, bukan dari sekedar ekspresi.
  • Sabar adalah cara yg harus digunakan untuk menyelesaikan masalah apapun. Seberat apapun, akan cepat diselesaikan dengan kesabaran.
  • Setiap masalah ada jalan keluarnya. Kamu mungkin tak melihatnya, namun Tuhan tahu jalan keluarnya. Yakin dan percayalah padaNya.
  • Jika ingin perubahan, lakukan pergerakan. Jangan hanya berdiam diri pun memaki.
  • Gunakan kekuatanmu untuk mengalahkan kelemahanmu sendiri, bukan untuk menindas orang lain yang lebih lemah.
  • Kecewa kepada orang lain adalah hal yg wajar. Tapi jangan sampai kecewa terhadap diri sendiri. Maafkan diri sendiri agar kamu tak kecewa.
  • Hidup ini memang banyak pilihan, namun kamu tak harus memilih apa yg terlihat terbaik. Pilihlah yg membuatmu bahagia.
  • Penting untuk mengerti apa yg km lakukan, tetapi lebih penting untuk mengerti mengapa kamu melakukan hal itu.

Sumber : @pepatah

Menjadi Orang Aneh Yang Mentaati Peraturan

Diatas motor bersama teman saya “Andreas Asdi Utama” ketika kami menuju ke bakmi jawa “Mas Tok” langganan kita di warung buncit, kami membahas mengenai payahnya disiplin pengguna jalan raya terhadap peraturan dan rambu-rambu lalu lintas. Jika boleh saya membandingkan dengan kedisiplinan orang Indonesia dengan beberapa negara yang pernah saya kunjungi memang terlihat suatu benang merah yang cukup jelas. Di Negara-negara yang maju  baik secara teknologi maupun ekonomi tingkat kesadaran dan kepatuhan terhadap suatu peraturan sangatlah tinggi. Bahkan saya bisa menarik kesimpulan secara cepat yaitu, ketika suatu negara rakyatnya sudah bisa mematuhi hukum dan peraturan yang berlaku dengan disiplin, maka secara perlahan-lahan negara tersebut akan semakin maju, sehingga bukan dibalik, maju dan sejahtera dulu baru bisa patuh hukum dan peraturan, namun kita harus patus terhadap hukum dan peraturan dululah baru kita bisa maju.

Ada pengalaman unik ketika saya berhenti di belakang garis disebuah lampu merah, saya malah diklakson berulang-ulang karena dianggap kurang maju memberikan space bagi pengendara dibelakang saya. Seakan-akan ketika saya mematuhi peraturan yang ada bahwa harus berhenti dibelakang garis putih, saya adalah orang yang aneh. Sedangkan melanggar sebuah peraturan jika dilakukan secara kolektif bisa dianggap sebuah kebenaran, apa ini bukan sudah terbolak-balik yaaa??? hehehhee kita sendiri yang bisa menjawabnya karena masalah utama yang dihadapi oleh negeri ini adalah kedisiplinan yang masih rendah disegala bidang.

So apapun pilihan kita mau ikut-ikutan melanggar peraturan atau ikut menjadi orang yang dianggap aneh karena taat peraturan, itu semua mencerminkan kualitas dari pribadi kita. Salam

Mendidik Anak Tugas Guru atau Orang Tua?

Pagi ini saya terlibat diskusi yang cukup serius dengan teman kantor yang sedang mencarikan sekolah TK untuk anaknya. Banyak sekali pertimbangan yang dia utarakan dari bahasa pengantar sekolah yang dia inginnya porsi bahasa Inggris lebih besar, sampai fasilitas yang diberikan oleh sekolahnya.  Bahkan teman saya ini rela mengeluarkan lebih dari 1 juta rupiah untuk SPP anaknya perbulan, asalkan anaknya mendapatkan sekolah yang bagus.

Pertanyaan menggelitik bagi saya, sekolahan yang bagus bagi anak TK itu yang seperti apa ya? Sepengetahuan saya yang setiap hari mengantar anak ke sekolah, kehidupan anak TK tidak lepas dari bermain sambil belajar dan berdoa. Saya dan istri memang sepakat untuk memasukan anak kami ke sekolah Katolik selain untuk pendidikan agama biasanya sekolah katolik mengajarkan anak mengenai disiplin yang lebih dibandingkan sekolah lainnya. Kembali mengenai sekolahan TK, menurut saya kadang kala orang tua ketika memilih sekolah, mereka memilih sekolah yang menurut mereka sebagai orang dewasa itu baik, baik dari segi kurikulum, fasilitas dan bahasa pengantar. Seakan-akan sekolah yang kurikulumnya padat, terus disekolah ada kolam renangnya dan komputer canggih serta menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantarlah yang disebut sebagai sekolahan yang bagus. Namun apakah sudah ditanyakan ke si anak apakah dia suka atau tidak, apalagi ini anak TK yang moodnya bisa berubah-ubah.

Sepengetahuan saya anak hanya membutuhkan dua hal ketika dia bersekolah yaitu NYAMAN dan SENANG. Fasilitas yang bejibun itu tidak akan ada gunanya kalau anak kita tidak merasa nyaman dan senang. Sejatinya pendidikan anak terutama adalah ketika dia dirumah, kita tidak bisa menyerahkan 100 persen pendidikan anak ke guru disekolah yang hanya beberapa jam bersama anak. Ada paradigma bahwa karena si orang tua sudah membayar mahal bagi pendidikan anaknya maka ketika anaknya tidak sepintar yang si ortu inginkan maka dia akan langsung menyalahkan sekolah dan mencap sekolah tersebut dengan sekolahan yang jelek karena gagal mendidik anaknya menjadi pintar.

Ingat pepatah satu jari menunjuk kesalahan orang lain jari yang lain menunjuk ke diri kita. Ketika menyalahkan sekolah karena gagal mendidik anak kita, sebaiknya kita juga harus introspeksi ke diri kita, apakah peran kita juga sebagai orang tua sudah kita lakukan sebaik-baiknya dalam mendidik anak? Perilaku anak tidak akan terlepas dari cara didik orang tuanya. Mendidik anak untuk menjadi pintar dalam pelajaran akan bisa didapatkan disekolah, sedangkan mendidik karakter anak menjadi pribadi yang lebih baik, bertanggungjawab dan pekerja keras itu adalah tugas kita sebagai orang tua sebagai bekal untuk kehidupannya dimasa datang. Pendidikan karakter inilah yang menurut saya sangat penting, karena ketika kita bisa menjadikan anak pintar pada pelajaran dia belumlah tentu karakter dia juga cemerlang, namun ketika kita berhasil mendidik karakter anak maka si anak akan bisa dengan sendirinya menyesuaikan dirinya untuk belajar dengan lebih tekun dan giat tanpa kita minta dan kita awasi dengan ketat, sehingga tidaklah mustahil dia juga akan menjadi anak yang unggul.

Sudah menjadi kewajiban kita sebagai orang tua untuk menyediakan pendidikan yang terbaik bagi anak, namun biarkan anak kita bermain bersama teman-teman sebayanya, biarkan dia tumbuh sesuai dengan usianya, janganlah kita paksa agar dia tumbuh menurut keinginan kita. Anak adalah anugerah dari Tuhan sudah sepantasnya kita memberikan pendidikan yang menyenangkan bagi dirinya. Seperti kebahagiaan hati kita ketika melihatnya lahir kedunia ini untuk pertama kalinya.

Biaya Hidup atau Gaya Hidup ??

Pagi ini ketika saya berangkat ke kantor saya menyempatkan diri untuk sarapan di sebuah warung yang berdekatan dengan kantor Istri. Warung itu berukuran tidak terlalu besar lebar 2.5 Meter panjang 4 meter. Warung ini menjadi favorite saya dalam beberapa minggu terakhir, dikarenakan bersih, murah dan masakannya enak. Saya rasa 3 faktor itu yang selalu di cari oleh pekerja-pekerja seperti saya apalagi di tengah belantara ibukota yang apa-apa serba membutuhkan uang. Dengan uang 10 ribu rupiah saya sudah bisa mendapatkan Nasi, Sayur, Ikan dan 2 buah perkedel. Dari orang yang hanya jalan kaki hingga pengendara mobil Alphard banyak yang menjadikan warung ini sebagai tempat makan favoritnya, ini menunjukan hampir semua lapisan ekonomi menjadi pelanggan warung ini. Keramahan di si ibu penjual menambah daya tarik warung kecil ini. Entah nama warung ini apa karena saya juga ga pernah tanya ke si ibu apa nama warungnya.

Selesai makan saya sempat termenung melihat sekeliling saya, banyak orang yang makan di warung kecil itu, status sosial mereka bisa terlihat dengan gadget yang mereka pakai, dari handphone merek ga jelas hingga iPhone terbaru bisa saya lihat disitu. Saya bisa mengambil kesimpulan secara sepihak bahwa di Jakarta ini jika kita mau hidup dengan sederhanapun sangat bisa, biaya hidup bisa ditekan tanpa mengorbankan kesehatan dan kualitas hidup kita. Toh makan 10 ribu seperti yang saya lakukan atau sarapan di sebuah kedai Kopi asing senilai lebih dari 50 ribu kita sama-sama kenyang, mungkin yang membedakan adalah gengsinya saja, bahkan mungkin makanan saya ini lebih sehat karena ada sayuran dan protein hewaninya hehehehe…

Biaya hidup di Jakarta di kota yang terkenal dengan kehidupannya yang serba glamor membuat orang selalu mengernyitkan dahinya karena apa-apa terasa sangat mahal sehingga biaya hidup tinggi. Namun bagi saya sebenarnya yang mahal bukanlah BIAYA HIDUP namun GAYA HIDUP. Kedua hal tersebut mempunyai perbedaan yang sangat mencolok. Makan siang di restoran mahal dengan makan siang di warteg toh sama-sama kenyang karena rata-rata lambung manusia mempunyai ukuran yang sama yaitu sekepalan tangan.

Saya punya seorang teman yang mempunyai penghasilan 5 juta namun dia bisa hidup layak bersama keluarganya dengan gaya hidup yang sederhana. Namun disisi lain seorang teman yang sudah 25 tahun bekerja dengan penghasilan 30 juta perbulan dia tidak mempunyai tabungan karena gajinya habis untuk mencicil hutang kartu kredit yang dia gunakan untuk memenuhi gaya hidupnya yang serba wah. Kedua orang diatas saya lihat memiliki dua kualitas hidup yang sangat berbeda, meski gaji teman saya yang pertama tidak terlalu besar namun dia tidak mempunyai hutang karena dia memaksimalkan apa yang dia miliki, kehidupannya lebih tenang dan bersahaja. Sedangkan teman saya yang kedua hidupnya tidak tenang karena kejaran debt collector.

Hidup dengan prinsip lebih besar pasak dari pada tiang sepertinya masih banyak yang melakukannya apalagi di kota metropolitan seperti Jakarta dimana hampir segala sesuatunya dilihat dari sisi penampilannya. Untuk mendapatkan penampilan yang wah mereka akan melengkapi dirinya dengan barang-barang mahal dan dengan kartu kredit mereka merasa bisa membeli apapun yang mereka mau apalagi banyak program cicilan 0% yang ditawarkan, hingga mereka lupa terhadap kemampuannya dalam melunasi. So Guys… sekarang pilihan ada ditangan kita mau mengutamakan gaya hidup atau hidup sewajarnya tanpa berlebihan. Tulisan ini hanya pandangan pribadi saya tidak mewakili siapapun selain saya… Thanks A Lot.

Cerita Kehidupan

Setelah melihat keributan antara dua orang yang ingin membuktikan bahwa dirinya mempunyai kelebihan dan keahlian diatas yang lain akhirnya saya menyimpulkan bahwa:

” Tidak perlu kita berdebat untuk membuktikan kemampuan kita karena orang yang menyukai kita tidak memerlukan itu dan orang yang membenci kita tidak akan pernah mempercayainya.”

Jangan hanya melulu berdoa tanpa berusaha, Tuhan akan membantu kita namun Tuhan akan melihat seberapa besar keinginan dan niat kita untuk berubah ke arah yang lebih baik…

“Usaha tanpa doa adalah kesombongan, Doa tanpa usaha adalah kebohongan”

Beberapa waktu yang lalu saya mempunyai seorang pembantu, namun di hari ketiga dia bekerja dirumah saya tiba-tiba dia bilang ingin berhenti dengan alasan bahwa saya berbeda keyakinan dengan dirinya dan menurut dia haram hukumnya bekerja dengan orang yang tidak se-keyakinan dengan dirinya. Saya hanya mengelus dada namun saya hormati pendiriannya. Sejatinya saya hanya ingin membantu dirinya karena dia adalah janda dengan 4 orang anak yang masih kecil-kecil. Memang ketika dia datang kerumah dia tidak menanyakan keyakinan saya karena menurut saya tidaklah menjadi masalah bahwa dua orang bekerja saling membantu, karena saya juga membutuhkan jasa dia untuk membantu membereskan pekerjaan rumah tangga, tapi ya sudahlah…… tiap orang adalah unik dengan segala pemikirannya masing-masing dan kita tidak bisa ngotot bahwa diri kitalah yang paling benar karena benar bagi kita belum tentu benar bagi orang lain.

“Apapun yang kamu katakan tentang agamaku, seburuk apapun pemikiranmu tentang agamaku, aku tetap percaya terhadap pilihanku karena aku yakin keselamatan ada didalamnya. Biarlah pilihan ini menjadi tanggung jawabku sendiri dengan Sang Maha Pencipta. Tugas kita sebagai umat manusia adalah saling menghormati yang mengasihi sesama manusia bukan untuk saling menghujat atau mengadili benar atau salahnya agama pilihan seseorang.”

Belajar Dari Sepotong Kue Pastel

Hari ini ketika saya makan sepotong pastel, saya iseng mengamati isi dari pastel itu yang terdiri dari berbagai macam jenis sayuran. Di sisi lain tayangan TV menyuguhkan debat terbuka antara 2 pihak yang sama-sama mengaku sebagai intelektual muda. Isi dari debat itu menurut saya tidaklah terlalu istimewa karena masing-masing pihak merasa pendapat dirinya adalah yang paling benar. Kondisi ini kurang mencerminkan sebuah penghargaan akan sebuah perbedaan akan cara berpikir yang berbeda dan menyikapi sebuah masalah melalui sudut pandang yang berbeda.

Sangatlah berbeda dengan nikmatnya pastel yang sedang saya nikmati pagi itu, dimana pastel itu terdiri dari berbagai macam komponen dan elemen yang menyatu sedemikian rupa menjadi sebuah makanan yang sangat enak. Coba kita bayangkan jika pastel ini hanya kulitnya saja atau hanya sayuran saja tentu saja bentuknya tidak akan menjadi sebuah pastel. Pun ketika si kulit dan si sayuran bersatu namun hanya dibatasi oleh satu buah sayuran saja, maka rasanya juga akan agak aneh dan kurang menarik. Pastel yang saya nikmati ini terdiri dari lebih dari minimal 3 komponen untuk kulit, 4 komponen isi dan 5 komponen bumbu (ini menurut analisa lidah saya lho yaaa…). Banyak sekali komponen yang berbeda menyatu dalam sepotong makanan ini dimana rasanya menjadi sangat enak yang membuat saya mampu menghabiskan 4 potong pastel kurang dari 30 menit.

Dari sepotong pastel ini saya belajar bahwa perbedaan itu jika dipersatukan akan menjadi sebuah kekuatan yang maha dahsyat dibandingkan jika masing-masing elemen berdiri sendiri-sendiri. Menghargai perbedaan itu mudah diucapkan namun butuh ketulusan untuk menjalankannya. Disalah satu status facebook saya, saya pernah menulis bahwa perbedaan itu bukan untuk disatukan namun dipersatukan dan perbedaan bukan untuk dihilangkan namun diakomodir menjadi sebuah kesatuan untuk membentuk sebuah element baru yang lebih hebat.

Belajar memang bisa dari mana saja, seperti saat ini kita belajar menghargai sebuah perbedaan dari sepotong pastel.

“Fanatisme terhadap keyakinan kita adalah mutlak, karena ini adalah kekuatan kita dan pondasi bagi kehidupan kita. Namun jangan pernah kita membenturkan dua keyakinan yang berbeda karena seperti membenturkan dua buat batu yang akan menimbulkan percikan api.” by  henricus panji