Monthly Archives: August 2014

Biaya Hidup atau Gaya Hidup ??

Pagi ini ketika saya berangkat ke kantor saya menyempatkan diri untuk sarapan di sebuah warung yang berdekatan dengan kantor Istri. Warung itu berukuran tidak terlalu besar lebar 2.5 Meter panjang 4 meter. Warung ini menjadi favorite saya dalam beberapa minggu terakhir, dikarenakan bersih, murah dan masakannya enak. Saya rasa 3 faktor itu yang selalu di cari oleh pekerja-pekerja seperti saya apalagi di tengah belantara ibukota yang apa-apa serba membutuhkan uang. Dengan uang 10 ribu rupiah saya sudah bisa mendapatkan Nasi, Sayur, Ikan dan 2 buah perkedel. Dari orang yang hanya jalan kaki hingga pengendara mobil Alphard banyak yang menjadikan warung ini sebagai tempat makan favoritnya, ini menunjukan hampir semua lapisan ekonomi menjadi pelanggan warung ini. Keramahan di si ibu penjual menambah daya tarik warung kecil ini. Entah nama warung ini apa karena saya juga ga pernah tanya ke si ibu apa nama warungnya.

Selesai makan saya sempat termenung melihat sekeliling saya, banyak orang yang makan di warung kecil itu, status sosial mereka bisa terlihat dengan gadget yang mereka pakai, dari handphone merek ga jelas hingga iPhone terbaru bisa saya lihat disitu. Saya bisa mengambil kesimpulan secara sepihak bahwa di Jakarta ini jika kita mau hidup dengan sederhanapun sangat bisa, biaya hidup bisa ditekan tanpa mengorbankan kesehatan dan kualitas hidup kita. Toh makan 10 ribu seperti yang saya lakukan atau sarapan di sebuah kedai Kopi asing senilai lebih dari 50 ribu kita sama-sama kenyang, mungkin yang membedakan adalah gengsinya saja, bahkan mungkin makanan saya ini lebih sehat karena ada sayuran dan protein hewaninya hehehehe…

Biaya hidup di Jakarta di kota yang terkenal dengan kehidupannya yang serba glamor membuat orang selalu mengernyitkan dahinya karena apa-apa terasa sangat mahal sehingga biaya hidup tinggi. Namun bagi saya sebenarnya yang mahal bukanlah BIAYA HIDUP namun GAYA HIDUP. Kedua hal tersebut mempunyai perbedaan yang sangat mencolok. Makan siang di restoran mahal dengan makan siang di warteg toh sama-sama kenyang karena rata-rata lambung manusia mempunyai ukuran yang sama yaitu sekepalan tangan.

Saya punya seorang teman yang mempunyai penghasilan 5 juta namun dia bisa hidup layak bersama keluarganya dengan gaya hidup yang sederhana. Namun disisi lain seorang teman yang sudah 25 tahun bekerja dengan penghasilan 30 juta perbulan dia tidak mempunyai tabungan karena gajinya habis untuk mencicil hutang kartu kredit yang dia gunakan untuk memenuhi gaya hidupnya yang serba wah. Kedua orang diatas saya lihat memiliki dua kualitas hidup yang sangat berbeda, meski gaji teman saya yang pertama tidak terlalu besar namun dia tidak mempunyai hutang karena dia memaksimalkan apa yang dia miliki, kehidupannya lebih tenang dan bersahaja. Sedangkan teman saya yang kedua hidupnya tidak tenang karena kejaran debt collector.

Hidup dengan prinsip lebih besar pasak dari pada tiang sepertinya masih banyak yang melakukannya apalagi di kota metropolitan seperti Jakarta dimana hampir segala sesuatunya dilihat dari sisi penampilannya. Untuk mendapatkan penampilan yang wah mereka akan melengkapi dirinya dengan barang-barang mahal dan dengan kartu kredit mereka merasa bisa membeli apapun yang mereka mau apalagi banyak program cicilan 0% yang ditawarkan, hingga mereka lupa terhadap kemampuannya dalam melunasi. So Guys… sekarang pilihan ada ditangan kita mau mengutamakan gaya hidup atau hidup sewajarnya tanpa berlebihan. Tulisan ini hanya pandangan pribadi saya tidak mewakili siapapun selain saya… Thanks A Lot.

Cerita Kehidupan

Setelah melihat keributan antara dua orang yang ingin membuktikan bahwa dirinya mempunyai kelebihan dan keahlian diatas yang lain akhirnya saya menyimpulkan bahwa:

” Tidak perlu kita berdebat untuk membuktikan kemampuan kita karena orang yang menyukai kita tidak memerlukan itu dan orang yang membenci kita tidak akan pernah mempercayainya.”

Jangan hanya melulu berdoa tanpa berusaha, Tuhan akan membantu kita namun Tuhan akan melihat seberapa besar keinginan dan niat kita untuk berubah ke arah yang lebih baik…

“Usaha tanpa doa adalah kesombongan, Doa tanpa usaha adalah kebohongan”

Beberapa waktu yang lalu saya mempunyai seorang pembantu, namun di hari ketiga dia bekerja dirumah saya tiba-tiba dia bilang ingin berhenti dengan alasan bahwa saya berbeda keyakinan dengan dirinya dan menurut dia haram hukumnya bekerja dengan orang yang tidak se-keyakinan dengan dirinya. Saya hanya mengelus dada namun saya hormati pendiriannya. Sejatinya saya hanya ingin membantu dirinya karena dia adalah janda dengan 4 orang anak yang masih kecil-kecil. Memang ketika dia datang kerumah dia tidak menanyakan keyakinan saya karena menurut saya tidaklah menjadi masalah bahwa dua orang bekerja saling membantu, karena saya juga membutuhkan jasa dia untuk membantu membereskan pekerjaan rumah tangga, tapi ya sudahlah…… tiap orang adalah unik dengan segala pemikirannya masing-masing dan kita tidak bisa ngotot bahwa diri kitalah yang paling benar karena benar bagi kita belum tentu benar bagi orang lain.

“Apapun yang kamu katakan tentang agamaku, seburuk apapun pemikiranmu tentang agamaku, aku tetap percaya terhadap pilihanku karena aku yakin keselamatan ada didalamnya. Biarlah pilihan ini menjadi tanggung jawabku sendiri dengan Sang Maha Pencipta. Tugas kita sebagai umat manusia adalah saling menghormati yang mengasihi sesama manusia bukan untuk saling menghujat atau mengadili benar atau salahnya agama pilihan seseorang.”

Belajar Dari Sepotong Kue Pastel

Hari ini ketika saya makan sepotong pastel, saya iseng mengamati isi dari pastel itu yang terdiri dari berbagai macam jenis sayuran. Di sisi lain tayangan TV menyuguhkan debat terbuka antara 2 pihak yang sama-sama mengaku sebagai intelektual muda. Isi dari debat itu menurut saya tidaklah terlalu istimewa karena masing-masing pihak merasa pendapat dirinya adalah yang paling benar. Kondisi ini kurang mencerminkan sebuah penghargaan akan sebuah perbedaan akan cara berpikir yang berbeda dan menyikapi sebuah masalah melalui sudut pandang yang berbeda.

Sangatlah berbeda dengan nikmatnya pastel yang sedang saya nikmati pagi itu, dimana pastel itu terdiri dari berbagai macam komponen dan elemen yang menyatu sedemikian rupa menjadi sebuah makanan yang sangat enak. Coba kita bayangkan jika pastel ini hanya kulitnya saja atau hanya sayuran saja tentu saja bentuknya tidak akan menjadi sebuah pastel. Pun ketika si kulit dan si sayuran bersatu namun hanya dibatasi oleh satu buah sayuran saja, maka rasanya juga akan agak aneh dan kurang menarik. Pastel yang saya nikmati ini terdiri dari lebih dari minimal 3 komponen untuk kulit, 4 komponen isi dan 5 komponen bumbu (ini menurut analisa lidah saya lho yaaa…). Banyak sekali komponen yang berbeda menyatu dalam sepotong makanan ini dimana rasanya menjadi sangat enak yang membuat saya mampu menghabiskan 4 potong pastel kurang dari 30 menit.

Dari sepotong pastel ini saya belajar bahwa perbedaan itu jika dipersatukan akan menjadi sebuah kekuatan yang maha dahsyat dibandingkan jika masing-masing elemen berdiri sendiri-sendiri. Menghargai perbedaan itu mudah diucapkan namun butuh ketulusan untuk menjalankannya. Disalah satu status facebook saya, saya pernah menulis bahwa perbedaan itu bukan untuk disatukan namun dipersatukan dan perbedaan bukan untuk dihilangkan namun diakomodir menjadi sebuah kesatuan untuk membentuk sebuah element baru yang lebih hebat.

Belajar memang bisa dari mana saja, seperti saat ini kita belajar menghargai sebuah perbedaan dari sepotong pastel.

“Fanatisme terhadap keyakinan kita adalah mutlak, karena ini adalah kekuatan kita dan pondasi bagi kehidupan kita. Namun jangan pernah kita membenturkan dua keyakinan yang berbeda karena seperti membenturkan dua buat batu yang akan menimbulkan percikan api.” by  henricus panji