Belajar Dari Sepotong Kue Pastel

Hari ini ketika saya makan sepotong pastel, saya iseng mengamati isi dari pastel itu yang terdiri dari berbagai macam jenis sayuran. Di sisi lain tayangan TV menyuguhkan debat terbuka antara 2 pihak yang sama-sama mengaku sebagai intelektual muda. Isi dari debat itu menurut saya tidaklah terlalu istimewa karena masing-masing pihak merasa pendapat dirinya adalah yang paling benar. Kondisi ini kurang mencerminkan sebuah penghargaan akan sebuah perbedaan akan cara berpikir yang berbeda dan menyikapi sebuah masalah melalui sudut pandang yang berbeda.

Sangatlah berbeda dengan nikmatnya pastel yang sedang saya nikmati pagi itu, dimana pastel itu terdiri dari berbagai macam komponen dan elemen yang menyatu sedemikian rupa menjadi sebuah makanan yang sangat enak. Coba kita bayangkan jika pastel ini hanya kulitnya saja atau hanya sayuran saja tentu saja bentuknya tidak akan menjadi sebuah pastel. Pun ketika si kulit dan si sayuran bersatu namun hanya dibatasi oleh satu buah sayuran saja, maka rasanya juga akan agak aneh dan kurang menarik. Pastel yang saya nikmati ini terdiri dari lebih dari minimal 3 komponen untuk kulit, 4 komponen isi dan 5 komponen bumbu (ini menurut analisa lidah saya lho yaaa…). Banyak sekali komponen yang berbeda menyatu dalam sepotong makanan ini dimana rasanya menjadi sangat enak yang membuat saya mampu menghabiskan 4 potong pastel kurang dari 30 menit.

Dari sepotong pastel ini saya belajar bahwa perbedaan itu jika dipersatukan akan menjadi sebuah kekuatan yang maha dahsyat dibandingkan jika masing-masing elemen berdiri sendiri-sendiri. Menghargai perbedaan itu mudah diucapkan namun butuh ketulusan untuk menjalankannya. Disalah satu status facebook saya, saya pernah menulis bahwa perbedaan itu bukan untuk disatukan namun dipersatukan dan perbedaan bukan untuk dihilangkan namun diakomodir menjadi sebuah kesatuan untuk membentuk sebuah element baru yang lebih hebat.

Belajar memang bisa dari mana saja, seperti saat ini kita belajar menghargai sebuah perbedaan dari sepotong pastel.

“Fanatisme terhadap keyakinan kita adalah mutlak, karena ini adalah kekuatan kita dan pondasi bagi kehidupan kita. Namun jangan pernah kita membenturkan dua keyakinan yang berbeda karena seperti membenturkan dua buat batu yang akan menimbulkan percikan api.” by  henricus panji

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>