Biaya Hidup atau Gaya Hidup ??

Pagi ini ketika saya berangkat ke kantor saya menyempatkan diri untuk sarapan di sebuah warung yang berdekatan dengan kantor Istri. Warung itu berukuran tidak terlalu besar lebar 2.5 Meter panjang 4 meter. Warung ini menjadi favorite saya dalam beberapa minggu terakhir, dikarenakan bersih, murah dan masakannya enak. Saya rasa 3 faktor itu yang selalu di cari oleh pekerja-pekerja seperti saya apalagi di tengah belantara ibukota yang apa-apa serba membutuhkan uang. Dengan uang 10 ribu rupiah saya sudah bisa mendapatkan Nasi, Sayur, Ikan dan 2 buah perkedel. Dari orang yang hanya jalan kaki hingga pengendara mobil Alphard banyak yang menjadikan warung ini sebagai tempat makan favoritnya, ini menunjukan hampir semua lapisan ekonomi menjadi pelanggan warung ini. Keramahan di si ibu penjual menambah daya tarik warung kecil ini. Entah nama warung ini apa karena saya juga ga pernah tanya ke si ibu apa nama warungnya.

Selesai makan saya sempat termenung melihat sekeliling saya, banyak orang yang makan di warung kecil itu, status sosial mereka bisa terlihat dengan gadget yang mereka pakai, dari handphone merek ga jelas hingga iPhone terbaru bisa saya lihat disitu. Saya bisa mengambil kesimpulan secara sepihak bahwa di Jakarta ini jika kita mau hidup dengan sederhanapun sangat bisa, biaya hidup bisa ditekan tanpa mengorbankan kesehatan dan kualitas hidup kita. Toh makan 10 ribu seperti yang saya lakukan atau sarapan di sebuah kedai Kopi asing senilai lebih dari 50 ribu kita sama-sama kenyang, mungkin yang membedakan adalah gengsinya saja, bahkan mungkin makanan saya ini lebih sehat karena ada sayuran dan protein hewaninya hehehehe…

Biaya hidup di Jakarta di kota yang terkenal dengan kehidupannya yang serba glamor membuat orang selalu mengernyitkan dahinya karena apa-apa terasa sangat mahal sehingga biaya hidup tinggi. Namun bagi saya sebenarnya yang mahal bukanlah BIAYA HIDUP namun GAYA HIDUP. Kedua hal tersebut mempunyai perbedaan yang sangat mencolok. Makan siang di restoran mahal dengan makan siang di warteg toh sama-sama kenyang karena rata-rata lambung manusia mempunyai ukuran yang sama yaitu sekepalan tangan.

Saya punya seorang teman yang mempunyai penghasilan 5 juta namun dia bisa hidup layak bersama keluarganya dengan gaya hidup yang sederhana. Namun disisi lain seorang teman yang sudah 25 tahun bekerja dengan penghasilan 30 juta perbulan dia tidak mempunyai tabungan karena gajinya habis untuk mencicil hutang kartu kredit yang dia gunakan untuk memenuhi gaya hidupnya yang serba wah. Kedua orang diatas saya lihat memiliki dua kualitas hidup yang sangat berbeda, meski gaji teman saya yang pertama tidak terlalu besar namun dia tidak mempunyai hutang karena dia memaksimalkan apa yang dia miliki, kehidupannya lebih tenang dan bersahaja. Sedangkan teman saya yang kedua hidupnya tidak tenang karena kejaran debt collector.

Hidup dengan prinsip lebih besar pasak dari pada tiang sepertinya masih banyak yang melakukannya apalagi di kota metropolitan seperti Jakarta dimana hampir segala sesuatunya dilihat dari sisi penampilannya. Untuk mendapatkan penampilan yang wah mereka akan melengkapi dirinya dengan barang-barang mahal dan dengan kartu kredit mereka merasa bisa membeli apapun yang mereka mau apalagi banyak program cicilan 0% yang ditawarkan, hingga mereka lupa terhadap kemampuannya dalam melunasi. So Guys… sekarang pilihan ada ditangan kita mau mengutamakan gaya hidup atau hidup sewajarnya tanpa berlebihan. Tulisan ini hanya pandangan pribadi saya tidak mewakili siapapun selain saya… Thanks A Lot.

One thought on “Biaya Hidup atau Gaya Hidup ??

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>